Kisah Nabi Musa As

KISAH LENGKAP NABI MUSA AS

source img : www.boombastis.com


Musa bin Imran atau Nabi Musa A.s adalah anak laki-laki dari seorang ibu yang bernama Yukabad dan seorang ayah yang bernama Imran. Beliau adalah adik laki-laki dari nabi Harun as dan Miryam. Nabi Musa as. dilahirkan di Mesir ketika zaman pemerintahan Raja Fir’aun. Fir’aun merupakan seorang raja yang zalim dan takabur. Padahal dahulu ia merupakan raja yang arif dan bijaksana. Namun, karena kesombongan akan kekuasaannya, Ia menjadi zalim dan mengakui dirinya adalah Tuhan. Siapa saja yang tidak menuruti perintahnya, maka orang tersebut akan dikenai hukuman mati.

Suatu hari Fir’aun bermimpi bahwa kerajaannya hangus terbakar, semua rakyatnya mati kecuali orang-orang Israil yang masih tetap hidup. Ketika fir’aun bangun, ia segera mencari ahli nujum untuk menakwilkan arti mimpinya itu. Jawaban yang diperoleh dari para ahli nujum ialah mimpinya merupakan pertanda akan datangnya seorang laki-laki dari Bani Israil yang akan menjatuhkan kekuasaannya.
Mendengar jawaban dari ahli nujum tersebut, Fir’aun segera memerintahkan seluruh pasukannya untuk memeriksa setiap rumah penduduk dan membunuh seluruh anak laki-laki di daerah kekuasaannya . Keputusannya itu diumumkan ke seluruh pelosok negeri agar semua rakyat mematuhi undang-undang itu.

Allah SWT memberi ilham kepada Yukhabad (ibu Nabi Musa As.) untuk menghanyutkan bayinya itu ke sungai Nil. Dengan kekuasan-Nya, bayi Musa As. terapung di dalam sebuah peti dan berjalan mengikuti arus sungai menuju kolam pemandian istana Fir’aun. Akhirnya, peti itu ditemukan oleh Siti Asiah istri Raja Fir’aun yang kemudian dibawanya ke dalam Istana.

Related image



Melihat bayi di tangan istrinya, Fir’aun segera menghunus pedangnya untuk membunuh bayi laki-laki yang berada di tangan istrinya itu. Kemudian, Siti Asiah melindunginya seraya berkata “Bayi ini jangan dibunuh, sebaiknya kita jadikan ia sebagai anak angkat, karena aku sudah menyayanginya dan bukankan kita tidak memiliki anak? ” Mendengar itu, Fir’aun akhirnya tak bisa berbuat apa-apa, maka sejak itulah Nabi Musa diangkat sebagai anaknya.

Siti Asiah mencari wanita yang bisa menyusukan bayinya itu, kemudian atas iradat Allah, maka terpilihlah ibu kandung Nabi Musa untuk menyusuinya. Karena saat itu tidak ada satupun air susu wanita yang mau diminum oleh Nabi Musa kecuali ibu kandungnya sendiri. Begitulah cara Allah mempertemukan kembali Nabi Musa AS. ke pangkuan ibunya. Seperti telah dijelaskan dalam Firman Allah dalam Q.S Al-Qashas ayat 13:
فَرَدَدْنَاهُ إِلَىٰ أُمِّهِ كَيْ تَقَرَّ عَيْنُهَا وَلَا تَحْزَنَ وَلِتَعْلَمَ أَنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُونَ
Artinya: “Maka kami kembalikan Musa kepada ibunya, supaya senang hatinya dan tidak berduka cita dan supaya ia mengetahui bahwa janji Allah itu adalah benar, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya“. (QS. Al-Qashash: 13).

Setelah menginjak dewasa, Nabi Musa As. diberikan anugerah oleh Allah SWT. ilmu pengetahuan dan pangkat kenabian serta diberi kitab Taurat untuk menghadap dan menaklukan Fir’aun.

Nabi Musa meninggalkan Istana Fir’aun karena mendapat kabar bahwa Fir’aun berencana buruk terhadapnya dan memerintahkan tentaranya untuk menangkapnya. Hal itu terjadi karena salah satu rakyatnya ada yang mati terbunuh oleh Nabi Musa saat ia mendamaikan perkelahian dua orang, dari bangsa Bani Israil dan Qibthi (bangsa Fir’aun).
Denagan rasa cemas ia meninggalkan kota sebagaimana hal ini telah dijelaskan dalam QS. Al-Qashash ayat 21:
فَخَرَجَ مِنْهَا خَائِفًا يَتَرَقَّبُ ۖ قَالَ رَبِّ نَجِّنِي مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ
Artinya: 
Maka keluarlah Musa dari kota itu dengan rasa takut menunggu-nunggu dengan khawatir, Ia berdoa: “Ya Tuhanku, selamatkanlah aku dari orang-orang yang zalim itu“.

Nabi Musa pergi tanpa tahu arah tujuan. Beliau hanya berjalan mengikuti langkah kakinya dengan rasa cemas dan khawatir karena takut dikejar oleh tentara Fir’aun. Saat beliau beristirahat, beliau melihat dua orang gadis yang tengah berebut air untuk hewan ternaknya. Kemudian Nabi Musa membantunya untuk mengambil air dan meminumkannya kepada ternak-ternaknya. Setelah kedua gadis itu pulang, ia kembali lagi menjumpai Nabi Musa dan mengundangnya untuk ke rumah. Ternyata kedua gadis itu adalah putri Nabi Syu’aib.

Setelah bertemu dan dijamu dengan penuh hormat, kemudian beliau menceritakan apa yang terjadi dengan dirinya, bahwa ia sedang dikejar oleh tentara Fir’aun, maka berkatalah Nabi Syu’aib: “Janganlah takut, sesungguhnya engkau telah lepas dari kaum yang zalim“.
Nabi Syu’aib menawarkan kepada Nabi Musa untuk mengambil salah seorang dari putrinya agar dijadikan sebagai istrinya.  Dalam Surat Al-Qashash ayat 27 dijelaskan:
قَالَ إِنِّي أُرِيدُ أَنْ أُنْكِحَكَ إِحْدَى ابْنَتَيَّ هَاتَيْنِ عَلَىٰ أَنْ تَأْجُرَنِي ثَمَانِيَ حِجَجٍ ۖ فَإِنْ أَتْمَمْتَ عَشْرًا فَمِنْ عِنْدِكَ ۖ وَمَا أُرِيدُ أَنْ أَشُقَّ عَلَيْكَ ۚ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّالِحِينَ
Artinya :
Berkatalah dia (Syu’aib): “Sesungguhnya aku bermaksud menikahkan kamu dengan salah seorang dari kedua anakku ini, atas dasar bahwa kamu bekerja denganku delapan tahun dan jika kamu cukupkan sepuluh tahun maka itu adalah (suatu kebaikan) dari kamu, maka aku tidak hendak memberati kamu. Dan kamu Insya Allah akan mendapatiku termasuk orang-orang yang baik“.
Akhirnya Nabi Musa menerima dan menyetujui tawaran Nabi Syu’aib. Maka kawinlah ia dengan salah satu putri Nabi Syu’aib.

Dalam perjalanan kembali ke Mesir bersama keluarganya, Nabi Musa mendapatkan wahyu dari Allah SWT. Dimana peristiwa itu terjadi dan diabadikan dalam QS. Al-Qashash ayat 29-32.

Ketika sampai di Mesir, beliau mengajak Fir’aun untuk kembali ke jalan yang benar seraya menunjukkan kedua mukjizatnya yang baru ia peroleh dari Allah SWT. Melihat itu, Fir’aun sangat murka dan memanggil semua tukang sihirnya agar bertanding dengan Nabi Musa.

Namun kemenangan berada di pihak Nabi Musa, sehingga para tukang sihir Fir’aun mengakui kebenaran ajaran yang dibawa oleh Nabi Musa As. Selain itu, Siti Asiah juga beriman kepada Nabi Musa. Maka bertambahlah murka Fir’aun sehingga ia menghukum mati para tukang sihirnya dan menyiksa istrinya hingga menemui ajalnya.

Related image




Nabi Musa beserta pengikutnya dikejar oleh Fir’aun dan tentaranya hingga di tepi laut merah. Sampai disanalah Nabi Musa dan para pengikutnya kebingungan karena menemui jalan buntu sedangkan mereka sudah terkepung oleh Fir’aun dan tentaranya. Maka turunlah firman Allah untuk menolongnya, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an:

وَإِذْ فَرَقْنَا بِكُمُ الْبَحْرَ فَأَنْجَيْنَاكُمْ وَأَغْرَقْنَا آلَ فِرْعَوْنَ وَأَنْتُمْ تَنْظُرُونَ
Artinya: “Dan (ingatlah), ketika Kami belah laut untukmu, lalu Kami selamatkan kamu dan Kami tenggelamkan (Fir’aun) dan pengikut-pengikutnya sedang kamu sendiri menyaksikan”. (QS. Al-Baqoroh : 50)

Dalam peristiwa itulah Allah mewahyukan kepada Nabi Musa As. agar memukulkan tongkatnya ke permukaan laut, kemudian Nabi Musa segera memukulkan tongkatnya dan tiba-tiba air laut itu terbelah menjadi dua bagian yang sekaligus di tengah-tengah (belahan) itu menjadi jalan yang bisa dilewatinya dan para pengikutnya.

Tidak lama kemudian Fir’aun dan bala tentaranya menyusul melewati jalan tersebut sambil merasa takut. Kemudian setelah Nabi Musa dan pengikutnya sampai di daratan, maka Allah memerintahkan kepada Nabi Musa agar secepatnya memukulkan tongkatnya ke lautan dan seketika itu pula Nabi Musa memukulkan tongkatnya, lalu tiba-tiba air lautan yang terbelah itu kembali menjadi air laut seperti semula, maka tenggelamlah raja Fir’aun dan bala tentaranya di laut merah.

KISAH NABI MUSA MEMPELAJARI ILMU DAN KEADILAN ALLAH SWT.


Image result for kisah nabi musa dengan nabi khidir
source img : mohlimo.com

Nabi Musa  as. Pernah bermunajat kepada tuhannya di atas bukit Thur. Dalam munajat beliau berkata, “Tuhanku, perlihatkan kepadaku keadilanMU.

Allah menjawab, “Engkau laki - laki yg tangkas, cekatan dan pemberani, tetapi  tidak  akan mampu bersabar untuk memahami keadilanKu .”

“ Insya Allah Saya mampu bersabar dengan  taufikMu, ” jawab musa as.

Kemudian Allah berfirman  ” pergilah menuju mata air  disuatu tempat , lalu bersembunyilah di baliknya dan perhatikan apa yang akan terjadi,  disitu kamu akan melihat apa yang kau inginkan , ”

Musa as. Berjalan dan mendaki anak bukit di balik mata air itu, lalu duduk bersembunyi. Tidak berapa lama datang  seorang penunggang kuda  di mata air itu , lalu ia turun dari kudanya dan berwuduk serta minum   air dari mata air itu. Ia membuka buntalanya yg di dalamnya terdapat kantong yg berisi uang 1000 dinar, lalu meletakannya di sampingnya lalu sholat. Kemudian laki2 itu kembali menaiki kuda dan ia lupa kantongnya.

Tidak lama kemudian  , datang seorang anak kecil ,lalu meminum air dari mata air itu dan pergi sambil mengambil  kantong uang yg ditemukan ditempat itu . Setelah anak kecil itu pergi , datanglah seorang laki - laki tua buta. Ia minum dari mata air itu, berwuduk dan berhenti sejenak untuk sholat,setelah sholat, ia duduk santai melepas lelah. Bersama dengan itu, laki - laki penunggang kuda yang datang pertama tadi teringat dengan  kantong uangnya. Ia kembali dari perjalanannya dan segera menuju sumber mata air itu , namun  ia tidak menemukan kantong uangnya. Ia hanya melihat laki laki buta itu yang sedang duduk beristirahat .

Pikirannya mencurigai laki - laki tua tersebut  : “Saya kehilangan kantong yg berisi 1000 dinar di tempat ini.

Tidak ada orang yg datang ke tempat ini selain kamu.” tuduh penunggang kuda itu .
” kamu tau saya laki - laki buta, maka bagaimana mungkin saya bisa melihat dan mengambil  kantongmu?” jawab laki - laki yg buta itu .

Penunggang kuda itu  marah atas ucapan laki - laki tua tersebut   . Ia mencabut pedang dan menghantamkannya pada laki - laki malang itu sampai tewas . Ia memeriksa mayat laki - laki tua itu dan kantong yang di carinya tidak ditemukan ia pun pergi dan meninggalkan mayat pria malang itu dengan wajah kesal. .

Menyaksikan peristiwa tragis tersebut Musa as. merasa jengkel dan hilang kesabarannya  . Ia  berkata, “Tuhanku dan junjunganku, kesabaranku benar - benar habis dan Engkau adalah Dzat yg Maha Adil, maka berilah saya pengetahuan dan penjelasan bagaimana semua ini bisa terjadi ?”

Allah memerintahkan Jibril untuk memberikan penjelasan   . Jibril as. berkata kepada Musa as. ” Hai Musa as. Allah swt. Berfirman: 'Aku mengetahui semua rahasia dan  lebih mengetahui dari pada yg kamu ketahui. Adapun anak kecil  yg mengambil kantong uang tersebut, sebenarnya ia hanya mengambil hak miliknya sendiri. Karena orang tua anak kecil tersebut adalah orang upahan laki - laki penunggang kuda itu  . Upah yg harus diterimanya terkumpul dalam jumlah uang yg terdapat didalam kantong yg di bawa laki - laki penunggang kuda itu dan upah tersebut  belum terbayar. Anak itu hanya mengambil haknya. Adapun laki - laki tua yg buta itu , adalah orang yang telah membunuh ayah dari penunggang kuda tersebut ketika ia belum buta . Allah telah mengambil hukum Qishash dan menyampaikan hak kepada setiap orang yang berhak menerimanya. Keadilan kami (Allah) sangat lembut.” setelah Musa as. Mengetahui hal tersebut, Ia bingung dan mohon ampun kepadaNya.
Demikianlah hikmah yang tersembunyi dibalik berbagai kejadian yang sering kita lihat sehari hari yang kadang kala  kita rasakan tidak adil . Pandangan dan penglihatan kita amat terbatas  sementara Allah memiliki penglihatan dan pengetahuan yang tidak terbatas


Pada satu ketika ada orang yang bertanya pada Musa as : “ Adakah orang yang lebih pandai dan hebat dari mu ya Musa ?” .

Musa menjawa :” Rasanya untuk masa ini tidak ada “ .

Allah mengingatkan pada Musa bahwa ada orang yang lebih pandai dari dirinya. Musa merasa penasaran  dan ingin bertemu dengan orang itu. Allah memerintahkan nya untuk pergi kepertemuan dua laut, disana ia akan dapat menemukan orang tersebut.
Musapun pergi dengan seorang muridnya untuk menemui orang yang alim itu. Hingga ketika sampai disatu tempat mereka merasa lapar dan Musa meminta pada muridnya untuk membuka perbekalan yang mereka bawa. Ketika membuka perbekalannya Musa tidak menemukan ikan yang mereka bawa.

Musa bertanya pada muridnya :” Dimana ikan yang tadi kita bawa ?”

Muridnya menjawab :” Tadi ketika kita beristirahat di sebuah batu saya melihat ikan itu melompat keluar dan mencari jalannya kelaut dengan cara yang aneh . Saya lupa menceritakan hal itu padamu” .

Mendengar hal itu Musa berkata :” Itulah tempat yang kita cari “ . Selesai makan Musapun mengajak muridnya untuk kembali ketempat ikan itu menghilang.

Disekitar tempat ikan itu menghilang Musa bertemu dengan seorang tua yang berpakaian rapi, Musa mengucapkan salam pada orang itu.

Orang tersebut menjawab :” Apakah dinegeri ini ada salam?, siapakah engkau ?” .

Musa menjawab :” Aku Musa “ .

“Musa dari Bani Israil ? “ tanya orang itu .

“ Ya “ jawab Musa. .

“ Apa keperluanmu “ Kata orang itu .

“ Saya ingin belajar sebagian ilmu yang diberikan Allah padamu “ jawab Musa.

Orang itu berkata :” Apakah tidak cukup bagimu dengan Taurat yang ada ditanganmu dan wahyu yang selalu datang padamu ya Musa? .

Sesungguhnya aku mempunyai ilmu yang tidak layak bagi mu untuk mengetahuinya dan engkau pun mempunyai ilmu yang tidak layak  bagiku untuk mengetahuinya”.

Kemudian datang seekor burung yang meminum air laut dengan paruhnya, orang itupun berkata :” Demi Allah tiadalah ilmuku dan ilmumu dibandingkan dengan ilmu Allah seperti apa yang diambil burung itu dari laut dengan paruhnya”.

Selanjutnya orang itu berkata :” Aku kuatir engkau tidak akan sabar jika ikut denganku.

Musa menjawab :” Insya Allah aku akan sabar mengikutimu “

Orang itu melanjutkan :” Bagaimana mungkin engkau akan bersabar dengan sesuatu yang tidak engkau pahami, tapi baiklah kalau memang engkau ingin ikut dengan ku ,  namun ada syarat yang harus  engkau patuhi . Engkau tidak boleh menanyakan apa saja yang aku lakukan sampai aku sendiri yang akan menjelaskanya pada mu nanti” .

“Baiklah aku akan mematuhi syarat yang engkau berikan “ Jawab Musa.

Dalam sebagai nriwayat disebutkan bahwa orang tua itu adalah nabi Khidir. Musapun ikut bersama dengan nabi Khidir unutk menimba ilmu darinya. Hingga sampai disebuah sungai mereka menyeberang dengan perahu yang disediakan penduduk yang kebanyakan sudah mengenal Khidir dengan tidak dipungut bayaran.

Diperjalan Khidir merusak bagian tepi perahu itu dengan kapak, Musa terkejut dan bertanya :” Mengapa engkau merusakkan perahu orang yang sudah memberikan tumpangan pada kita dengan  gratis ?”.

Khidirpun berkata :” Bukankah sudah ku katakan bahwa engkau tidak akan sabar ikut denganku “ .

Musapun terdiam, selanjutnya berkata:” baiklah kalau begitu aku akan berusaha untuk bersabar” .

Sampai ditepi pantai mereka berjumpa dengan serombongan anak anak yang sedang bermain, Khidir menangkap salah seorang anak itu dan membunuhnya.

Musa terkejut dan berkata :” Mengapa engkau bunuh anak kecil yang tidak bersalah “ .

Khidirpun berkata :” Bukankah sudah ku katakan bahwa engkau tidak akan sabar ikut denganku “ .

Musapun berkata :” Baiklah aku akan berusaha bersabar, jika nanti aku masih bertanya juga itulah saatnya perpisahan diantara kita” .

Akhirnya mereka sampai di sebuah perkampungan , mereka mendatangi rumah penduduk disitu minta untuk dijamu, namun tidak satu orangpun yang mau menerima mereka. Diujung kampung mereka melihat sebuah rumah yang sudah hampir runtuh temboknya, Khidir mengajak Musa untuk memperbaiki rumah itu.

Selesai memperbaiki rumah itu Musa berkata :” Bukankah kita bisa minta upah pada pemilik rumah ini karena kita sudah memperbaiki rumahnya”.

Khidirpun berkata : Inilah saatnya perpisahan diantara kita, namun sebelumnya aku akan menjelaskan semua kejadian yang engkau tidak sanggup bersabar melihatnya itu”.

“ Adapun perahu yang aku rusak itu, diujung kota ada seorang raja yang bengis  yang merampas setiap perahu yang masih baik. Aku berharap raja itu tidak akan mengambil perahu yg sudah rusak ini, dan nanti setelah raja itu pergi pemiliknya  bisa memperbaiki bagian yang rusak itu “

“ Adapun anak yang aku bunuh itu, ibu bapaknya adalah seorang yang saleh dan taat beribadah. Anak ini kelakukannya tidak baik dan aku kuatir ia akan mendorong ibu bapaknya menjadi kafir karena sayang pada anaknya itu. Aku berharap Allah akan mengganti anak itu dengan anak yang soleh yang mendorong kedua ibu bapaknya untuk lebih taat beribadah. “

“ Rumah yang kita perbaiki itu adalah kepunyaan dua orang anak yatim, ibu bapaknya adamenyimpan sebagian harta untuk anak mereka dibawah pondasi rumah itu. Aku kuatir jika tidak diperbaiki rumah itu akan roboh dan harta itu diambil oleh orang yang tidak berhak”

“ Demikianlah aku telah menjelaskan semua apa yang telah aku lakukan dan membuat engkau tidak sabar menyaksikannya, Allah telah memberikan ilmu kepada kita masing masing secara khusus. Aku tidak menguasai ilmu yang diberikan Allah padamu , dan engkaupun tidak menguasai ilmu yang diberikan Allah padaku. Kita masing masing bekerja menurut apa yang diajarkan Allah pada kita. “

Source :
wikipedia.org
catatanmuslimah.com
http://tafsirq.com/
http://www.fadhilza.com
http://seputarmuslimin.blogspot.co.id

1 Response to "Kisah Nabi Musa As"

Berkomentarlah menggunakan bahasa yang sopan.